Kamis, 09 Juni 2011

Kekeliruan Dalam Mendidik Anak Ala Barat Yang Diadopsi Umat Islam

oleh Muhammad Pizaro Novelan Tauhidi. Aktif di Kajian Zionisme Internasional dan Kuliah Peradaban Islam Depok Islamic Study Circle Masjid UI (eramuslim.com)

Sebuah Krtitik Terhadap Ide Pemenuhan Tumbuh Kembang Anak

Tidak seorang bayi pun kecuali dia terlahir berdasarkan fitrah. Lantas kedua orangtuanya-lah yang menjadikan dia seorang Yahudi, Nashrani, maupun Majusi.

Sebagaimana binatang yang melahirkan anak dengan sempurna, apakah kalian rasa ada cacat pada anak binatang tersebut?”

Bapak-ibu sekalian, pernahkah kita sesekali mengamati dengan serius iklan-iklan di televisi mengenai tumbuh kembang anak? Apakah yang kita lihat? Mungkin sebagian besar dari kita disuguhkan iklan yang berksiar mengenai produk susu, makanan, hingga pencernaan bagi anak kita.

Tidak hanya itu, kita juga dapat melihat bagaimana produsen dari produk kebutuhan bagi bayi tersebut, dengan sedikit “ancaman” mencoba meyakinkan kita betapa pentingnya asupan makanan bagi anak kita. Jika tidak terpenuhi akan menggangu kecerdasannya dikemudian hari.” Anak Anda Mau Sehat? Makan Biskuat!”

Terjebak Pada Pemenuhan Biologis dan Kesenangan An Sich

Percayakah kita sebenarnya, bahwa produk kebutuhan bagi bayi yang ada sekarang ini adalah hasil dari saduran Psikologi Barat yang hanya melihat manusia sebatas kungkungan asupan biologis. Bayi dalam konsep Barat memang diproduk sebagai mesin yang akan berkembang hanya dalam pemenuhan wilayah ketubuhan.

Asumsi ini menjadi berkembang pesat di Eropa dan Amerika setelah Sigmund Freud mengungkapkan tahapan perkembangan pemenuhan kebutuhan anak dalam teori psikoanalisisnya.

Kita ketahui bahwa Freud menjadi sorotan banyak kalangan ketika dia menguraikan mengenai alur tahapan perkembangan kepribadian via seksualitas (maksudnya unsur biologis dalam tubuh). Freud menyangkal bahwa dorongan biologis tidak berawal pada masa pubertas namun sedari bayi, dan seksualpun menjadi penggerak dalam keseharian manusia. Hal ini kemudian menjadi trendsetter corak terapi dan tafsiran kepribadian dalam fenomena kehidupan.

Tak ayal kemudian dengan cepat banyak para psikiater dan praktisi psikologi anak bergabung dalam mazhab psikodinamika Freud. Seperti Carl Gustave Jung dari Zurich, A.A Brill dari New York, Sandor Verenzci dari Budapest, Karl Abraham dari Berlin, Alfred Adler dari Wina, dan juga Karen Horney dari Amerika Serikat.

Dalam teori Freud, perbincangan mengenai ketubuhan ialah titik sentral dalam melihat kepribadian futurutif manusia. Dalam mendiskusikan kepribadian, pada dasarnya manusia adalah makhluk biologis. Badan atau tubuh bekerja melalui insting-insting ketubuhan yang mesti dipenuhi, yaitu gairah meraih kenikmatan dan menghindari ketidaksenangan biologis. Jatidiri riil ini tentulah bersifat keduniawian. Aktivitas somatik menjadi prioritas ketimbang emosional, sosial, lebih-lebih agama. Secara garis besar, Freud akan mengatakan bahwa kehidupan psikis seorang anak digerakkan oleh insting biologis atau insting seksual.

Dalam teori perkembangannya, Freud mengetengahkan bahwa kehidupan anak-anak pada masa kehidupannya memiliki kecenderungan untuk memenuhi kenikmatan oralnya. Aktivitas seperti makan, minum, menyusu adalah satu-satunya hal yang wajib dipenuhi tinimbang aktivitas lainnya. Menurut Freud, jika hal itu tidak terpuaskan, anak akan mengalami gangguan kecemasan, dan bukan tidak mungkin akan mengalami penyakit kejiwaan di kemudian hari. Contohnya Freud pernah mengatakan, bahwa orang yang gemar merokok adalah orang yang ketika ia bayi tidak berhasil memenuhi kebutuhan menyusuinya.

Selain teori oralnya, Freud juga mengetengahkan gagasannya tentang perkembangan Anal pada anak usia dini. Menurut Freud, setelah fase oral terpenuhi, anak akan beralih untuk memuaskan kebutuhan analnya, yakni segala aktivitas yang berhubungan dengan dubur seperti buang air besar. Ini terjadi saat anak berumur 1-3 tahun.

Aktivitas perkembangan pada fase anal sendiri berupa pengeluaran kotoran untuk menghilangkan sumber ketidaknyamanan dan menimbulkan perasaan lega. Dalam perkembangannya, karena pengeluaran feses dianggap penting oleh orang tua, maka muncullah apa yang disebut Freud dengan aktivitas toilet traning.

Toilet training adalah pembiasaan diri orangtua kepada seorang anak untuk menjaga kebersihan diri. Hal ini dimaksudkan agar anak mempunyai kendali diri dalam membuang kotoran. Di sini anak harus mengikuti sebuah aturan oleh pihak orang tua agar feses yang dikeluarkan tidak membuat kekotoran dimana-mana.

Freud kemudian mendelegasikan bahwa jika seorang ibu mempunyai karakter positif dalam menghadapi fase anal seperti sifat sabar dan kerap memuji perbuatan aktifitas feses si anak, eksesnya akan tertuju pada pemahaman anak tentang konsep pembuangan kotoran yang baik dan bertanggung jawab.

Namun sebaliknya, jika aktivitas pembuangan feses tidak berjalan dengan mulus, lalu seorang ibu kerap mengeluarkan amarahnya meretapi kondisi anak yang tidak wajar dalam pembuangan fesesnya, ini akan menyebabkan timbulnya benih-benih kecemasan berupa sifat pemalu di kemudian hari, Tidak hanya itu, Freud kemudian menarik kegagalan seorang anak pada pemenuhan fase anal sebagai prasyarat timbulnya neurosis dalam interval waktu beberapa tahun kedepan.

Bertitik tolak dari Teori Freud inilah Barat kemudian secara simultan mulai mengadopsi dengan menitik tekankan pentingnya aktifitas pemenuhan unsur biologis dibanding konten lainnya. Aktivitas makan dan pembungan feses berkembang menjadi satu-satunya jalan menafsirkan jiwa bayi. Tak heran jika banyak iklan popok, susu, makanan cair, berubah menjadi salah satu lini tervital sebagai salah satu produk tumbuh kembang anak.

Selain daripada itu, dari Teori Freud inilah sebuah pesan kemudian ditangkap oleh Barat untuk memenuhi faktor kesenangan belaka bagi anak. Barat kemudian menganggap mainan adalah satu-satunya cara agar prinsip kenikmatan anak terpenuhi. Ini menjadi bergulir panjang hingga kini produk-produk kesenangan itu amat berkaitan dengan lini bisnis.

Dunia games sekarang menjadi momok terbesar setelah pornografi. Banyak kita dapati anak yang menghabiskan waktunya di internet bukan untuk menghabiskan waktunya dengan ilmu, tapi demi kelanjutan serial games yang telah mencadu.

Pertanyaannya kemudian adalah dimanakah konten agama dalam Teori Freud? Lalu apakah agama memiliki peran diametris dalam kesehatan jiwa anak? Dan adakah porsi pelajaran agama dalam bagian teori tumbuh kembang anak dalam gagasan tentang bayi di Barat saat ini? Jawabannya adalah tidak ada. Karena bagi Freud agama adalah penyakit yang akan menyerang bayi. Sedang menurut Ludwigh Ferubach, lebih sadis lagi: Agama adalah ilusi.

Jadi, wajar saja jika tidak ada iklan menghafal dan mengkaji Qur’an bagi anak-anak di televisi-televisi kita. Lalu wajar pula juga jika banyak masyarakat Barat sekarang menjadi atheis. Kurang ajar. Virginitas adalag barang murah. Sedangkan ketetapan definisi baik dan buruk tidak ada hubungannya dengan agama. Lalu bagaimana dengan kita?

Kekosongan Nilai Islam dan Kerancuan Tauhid

Asumsi ini kemudian ditarik lebih dalam lagi di tiap teori tentang anak, baik psikomotorik anak, psikososial anak, hingga kognitif anak. Agama memiliki peran asing dan cenderung menjadi benalu. Agama dalam termin Barat adalah satu kasus cacat tersendiri dalam kehidupan awal anak-anak. Karena bagi Barat, anak belum megenal Tuhan dan memang tidak perlu Tuhan.

Sebab agama cenderung menekan insting-insting manusia yang semestinya harus disalurkan seperti pergaulan bebas, hedonisme, hingga keharusan mereka untuk tidak patuh pada norma. Ini kemudian secara tidak sadar diterjemahkan pada beberapa lembaga pendidikan kita yang berkesimpulan bahwa agama adalah wilayah privat. Ia adalah konten pribadi yang cukup diajarkan seminggu sekali.

Sebelum itu, Barat juga telah meredusir mengenai makna agama pada dua hal. Pertama, pengaburan makna agama menjadi sekedar moral belaka. Agama bisa jadi substitut dari moral. Dan moral lebih save untuk diajarkan kepada anak untuk menentukan kebenaran daripada agama. Pertanyaannya adalah sederhana, sekarang apakah sebenarnya perbedaan agama dan moral? Jawabannya juga sederhana.

Bahwa definisi moral hanya berlaku pada suatu lingkup budaya tertentu. Moral dalam definisi masyarakat Indonesia berbeda dengan atural moral di Amerika. Disana anak memanggil dengan sapaan kamu terhadap orang tua sudah bisa, sedang di Indonesia menjadi ganjil untuk mengemuka.

Nah, berbeda dengan moral, agama berlaku dimana saja. Agama bukanlah produk budaya dan tak boleh tunduk pada budaya. Justru agama lah yang membuat budaya harus dekat dengan aturannya. Nah Barat tidak sependapat dengan ini. Bagi mereka, anak sudah cukup menjadi orang baik tanpa harus beragama. Batasan agama tdak boleh berlawanan dengan nilai tumbuh kembang anak.

Oleh karena itu orang yang namanya Kohlberg saat ia membuat Teori Moralnya tidak mendefinisikan secara jelas tentang makna penting agama bagi anak. Ia hanya membuat teori bahwa pada umur sekian dan sekian anak sudah bisa diajarkan tentang moral. Sekali lagi, moral bukan agama.

Kedua, penafikan pemaknaan benar salah pada proses pendidikan anak. Inilah yang sebenarnya terjadi di Indonesia. Banyak lembaga pendidikan hatta lembaga pendidikan Islam sekalipun, sudah terjebak pada lema Barat, bahwa anak adalah makhluk lugu yang harus dijauhkan pada konten benar dan salah waktu ia kecil.

“Jadi bapak-bapak ibu-ibu, anak jangan diajari yang macem-macem dulu. Jangan diajari benar atau salah dulu. Maklum anak kita kan masih kecil. Duh kasihan dari kecil sudah diajari thoghut dan kafir.” Begitu kria-kira ucapan salah seorang psikolog anak berjilbab.

Terlihat memang pendapat ini menarik. Asumsi ini coba memberi ruang pada ekspresi anak untuk menampilkan tindakan apa adanya tanpa harus dibelenggu aturan. Tapi thesa ini secara tidak sadar sudah membunuh fitrah anak bahwa sejak di alam ruh pun, anak sudah terikat janji kepada Allah untuk selalu online di jalan kebenaran.

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku Ini Tuhanmu?" mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap Ini (keesaan Tuhan)", (Al A’raf 172)

Inilah konsekuensi tauhid, yang tidak hanya melihat anak pada asupan ketubuhan, yang tidak hanya melihat anak kecil sebagai makhluk lugu yang belum memiliki jiwa. Oleh karena itu, alih-alih kita menjauhi anak untuk mendefinisiakan mana yang thoghut, mana yang kafir, mana yang benar, Rasulullah SAW malah mengatakan justru orangtualah yang sebenarnya menjadikan anaknya thoghut dan kafir.

“Tidak seorang bayi pun kecuali dia terlahir berdasarkan fitrah. Lantas kedua orangtuanya-lah yang menjadikan dia seorang Yahudi, Nashrani, maupun Majusi. Sebagaimana binatang yang melahirkan anak dengan sempurna, apakah kalian rasa ada cacat pada anak binatang tersebut?” Astaghfirullah.

Anak Dijauhkan Dari Ilmu

Tidak hanya berhenti di konten tauhid, dengan tampilan periklanan di media yang menjelaskan tentang kebutuhan biologis anak-anak, kita sudah digiring untuk hanya membentuk anak dalam sebuah prosa yang mutlak biologis. Orangtua hampir habis mengeluarkan uangnya untuk membelikan hal-hal yang bersifat biologis ketimbang memberinya materi khusus tentang makna sebuah ilmu dan agama.

Ini bukan berarti kita dilarang untuk membelikan segala produk ketubuhan bagi bayi sama sekali, namun yang menjadi problem kita adalah jangan-jangan ini memang sudah grand design dari Barat untuk menjauhkan anak dari Ilmu-ilmu Keislaman yang memang Barat khawatir sekali untuk itu.

Akhirnya kita juga khawatir bahwa kita telah terjebak pada manifestasi materialisasi yang cenderung membawa anak pada pemahaman bahwa dunia adalah segala. Bahwa Islam adalah kalimat kedua. Sedang Al Qur’an adalah lembar tulis yang “lebih murah” ketimbang HP berlayar kaca. Konsekuensi logis inilah yang sebenarnya terjadi pada banyak anak muslim, yang meski berkerudung tapi masih melihat Islam dari kacamata lugu. Mereka terbentur pada visi panjang bagaimana menjadi seorang pengilmu sebab telah kadung gagal memaknai agama hanya pada konten ritualitas belaka.

Kalau kita mau jujur, berapa banyak sebenarnya uang kita habis untuk membeli produk-produk ketubuhan ketimbang habis untuk membelikan anak kita sebuah buku. Padahal sebenarnya adalah kesia-siaan jika kita memenuhi asupan gizi kecerdasan anak, jika kita sendiri justru tidak mampu membentuk iklim keluarga dalam menyalurkan potensi kecerdasan anak.

Oleh sebab itu, Ibnu Qayyim Al Jauzi dengan sangat geram mewanti-wanti orangtua yang tidak memenuhi hak ilmu bagi anak dengan sebutan perusak. “Barang siapa yang melalaikan pendidikan anaknya dengan hal-hal yang bermanfaat serta meninggalkannya secara sia-sia, maka berarti telah berbuat buruk kepada anak seburuk-buruknya. Kebanyakan anak menjadi rusak adalah disebabkan orang tuanya, karena tidak adanya perhatian kepada mereka, serta tidak diajarkan kepada mereka kewajiban-kewajiban agama dan sunah-sunnahnya.”

Oleh karenanya, kita juga harus imbang untuk tidak terbentur pada pemaknaan biologis dan kesenangan an sich tapi kemudian melupakan visi jangka panjang tentang asupan ilmu bagi anak. Sedari dini kita juga harus mulai terbiasa untuk memberikan buku daripada mainan. Anak akan belajar betapa lingkungannya memang mendukung bagi tumbuh kembangnya untuk mengenal ideologi Islam. Kecintaan anak pada ilmu dapat dibentuk bagaimana orangtuanya juga memperlakukan ilmu.

Paling tidak kita bisa mensiasati dalam pemenuhan kebutuhan masa anak, namun tidak pula menafikan peran perkembangan keilmuan bagi anak. Sebagai contoh, berilah mainan bagi anak yang juga mengandung unsur edukatif tinimbang kesenangan belaka. Satukan antara makna bermain dengan kedekatan ia kepada Allah lewat jalan pengenalan terhadap ilmu-ilmu Islam. Orang tua bisa menemani anak untuk secara simultan mengkaitkan antara sebuah permainan dengan sains Islam. Dan Alhamdulillah media itu kini sudah cukup banyak.

Maka dari itu, Imam asy-Syahid Hasan al-Banna dalam sebuah risalahnya akhirnya memang menitiktekankan betapa potensi kecerdasan lebih penting untuk kita perhatikan ketimbang sekedar kesenangan belaka. Beliau menyeret nuansa keilmuan dan kepustakaan sebagai elemen terpenting dalam membentuk karakter asasi kanak-kanak, “Adalah sangat penting adanya perpustakaan di dalam rumah, sekalipun sederhana. Koleksi bukunya dipilihkan dari buku-buku sejarah Islam, biografi Salafus Sholih, buku-buku akhlak, hikmah, kisah perjalanan para ulama ke berbagai negeri, kisah-kisah penaklukan berbagai negeri, dan semisalnya”

Generasi Rabbani seperti Imam Syafi’i, Ibnu Taimiyyah, Sayyid Quthb, dan Taqiyudin An Nabhani bukanlah sederetan generasi ulama yang ditempuh dalam satu proses lalu usai. Mereka adalah barisan kalimat panjang yang dimulai dari habitasi memperjuangkan kebenaran Islam sejak dini. Dalam naungan jaminan keluarga pecinta ilmu dan penikmat buku yang memiliki peranan penting dalam meretas paradigma pendidikan usia dini yang pasti Islami. Sebab Rasulullah pernah bersaba, Perumpamaan orang yang mempelajari ilmu pada waktu kecil adalah seperti memahat batu, sedangkan perumpamaan mempelajari ilmu ketika dewasa adalah seperti menulis di atas air. (HR ath-Thabrani dari Abu Darda’ ra.).

Penekanan Tauhid dan Ilmu: Belajar Mendidik Anak Dari Orangtua Imam Syafi’i
AKhirnya kita bisa belajar dari banyak teladan dalam Islam bahwa dunia ini bukan segalanya. Para ulama-ulama terdahulu adalah mereka yang sejak kecilnya justru susah, hidup dalam kemiskinan tapi mampu tampil sebagai pilar memapah Islam dengan kekuatan tauhid dan ilmu yang menyala-nyala.

Salah satu kisah itu dapat kita ambil hikmahnya dalam sekat perjalanan seorang Ulama Besar Islam bernama Imam Syafi’i. Imam an-Nawawi pernah menceritakan bagaimana peran seorang orangtua perempuan di belakang penguasaan Imam Syafi‘i terhadap fiqh. Ibu Imam Syafi’i adalah seorang wanita berkecerdasan tinggi tapi miskin. Namun bisa dikatakan kesetiaannya berada di belakang sang anak lah yang menjadikan Imam Syafi’i menjadi ilmuwan sejati hingga saat ini.

Di Mekkah, Imam Syafi ‘i dan ibunya tinggal di dekat Syi‘bu al-Khaif. Di sana, meski hidup tanpa suami, sang ibu telah sukses menerjemahkan visi jangka panjang tentang arti, Tauhid, Ilmu, dan Keharusan membawa nama harum sang anak ke hadapan Allahuta’ala. Sekalipun hidup dalam sebatang kara, hal itu tidak menghalangi sang ibu untuk menempatkan anaknya dalam kultur pendidikan agama yang terbaik di Mekkah. Sang ibu sadar, ia tidak memiliki banyak uang, namun dan kecintaananya terhadap Allah dan ilmu dari kedua ibu dan anak ini meluluhkan hati sang guru untuk rela mengajar sang Imam meski tanpa dominasi finansi.

Imam Syafi‘i pernah bertutur betapa aroma ketauhidan yang kukuh dan nuansa keilmuan yang kuat adalah dua karakter investasi yang membentuk kepribadian hakiki, “Di al-Kuttab (sekolah tempat menghafal Alquran), saya melihat guru yang mengajar di situ membacakan murid-muridnya ayat Alquran, maka aku ikut menghafalnya. Sampai ketika saya menghafal semua yang dia diktekan, dia berkata kepadaku, “Tidak halal bagiku mengambil upah sedikitpun darimu.”

Dan dengan segera, guru itu kemudian mengangkat sang pangeran ilmu sebagai penggantinya, mengawasi murid-murid lain jika beliau berhalangan hadir. Bahkan dengan cepat Imam Syafi’i berhasil merampungkan hafalan Qur’an di al-Kuttab, lalu kemudian beralih ke Masjidil Haram untuk menghadiri majelis-majelis ilmu. Imam Syafi’i kemudian berguru fiqih kepada Muslim bin Khalid Az-Zanji dengan tingkat kecepatan menguasai ilmu dalam jangka waktu relatif cepat.

Az-Zanji kemudian mengakui kemampuan muridnya yang ajaib itu sehingga beliau mengizinkannya memberi fatwa ketika masih berusia 15 tahun. Bayangkan di usia semuda itu Imam Syafi’i telah menjelma menjadi mufti di Masjid Al-Haram Makkah. Inilah buah dari salah satu kerja keras dari seorang ibu yang lebih banyak memberi ilmu ketimbang mainan. Yang lebih banyak berusah payah memberi asupan buku ketimbang jalan-jalan.

Sekalipun hidup dalam kemiskinan, kecintaan Imam Syafi’i tak sama sekali membuatnya pantang menyerah dalam mencintai Islam dan menimba ilmu. Beliau sampai harus mengumpulkan pecahan tembikar, potongan kulit, pelepah kurma, dan tulang unta semata-mata demi kecintaannya dalam menulis Islam. Sampai-sampai tempayan-tempayan milik ibunya penuh dengan tulang-tulang, pecahan tembikar, dan pelepah kurma yang telah bertuliskan hadits-hadits Nabi.

Hingga pada usia sebelum beranjak ke 15 tahun, Imam Syafi’i menceritakan hasratnya kepada sang ibu yang sangat dikasihinya tentang sebuah keinginan seorang anak untuk menambah Ilmu diluar Mekkah. Mulanya sang bunda menolak. Berat baginya melepaskan Syafi'i, dalam sebuah kondisi dimana beliau berharap kelak Imam Syafi’i tetap berada bersamanya untuk menjaganya di hari tua. Demi ketaatan dan kecintaan Syafi'i kepada Ibundanya, maka mulanya beliau terpaksa membatalkan keinginannya itu, demi rasa cinta seorang pecinta ilmu kepada seorang bernama ibu. Meskipun demikian akhirnya sang ibunda mengizinkan Syafi'i untuk memenuhi hajatnya untuk menambah Ilmu Pengetahuan ke luar kota.

Sebelum melepaskan Syafi'i berangkat, ibunda tersayang Imam Syafi’i menjatuhkan doa ditengah rasa haru orangtua kandung memiliki anak yang telah jatuh hati pada ilmu,
"Ya Allah Tuhan yang menguasai seluruh Alam! Anakku ini akan meninggalkan aku untuk berjalan jauh, menuju keridhaanMu. Aku rela melepaskannya untuk menuntut Ilmu Pengetahuan peninggalan Pesuruhmu. Oleh karena itu aku bermohon kepadaMu ya Allah permudahkanlah urusannya. Peliharakanlah keselamatanNya, panjangkanlah umurnya agar aku dapat melihat sepulangnya nanti dengan dada yang penuh dengan Ilmu Pengetahuan yang berguna, amin!"

Setelah usai berdo'a, sang ibu memeluk Syafi'i kecil dengan penuh kasih sayang bersama linangan air mata membanjiri jilbabnya. Ia sangat sedih betapa sang anak akan segera berpisah dengannya. Sambil mengelap air mata dari wajahnya, sang ibu berpesan, "Pergilah anakku. Allah bersamamu. Insya-Allah engkau akan menjadi bintang Ilmu yang paling gemerlapan dikemudian hari. Pergilah sekarang karena ibu telah ridha melepasmu. Ingatlah bahwa Allah itulah sebaik-baik tempat untuk memohon perlindungan!” Subhanallah

Selepas do’a itu terlantun syahdu, Imam Syafi'i mencium tangan ibunya dan mengucapkan selamat tinggal kepada ibunya. Sambil meninggalkan wanita paling tegar dalam hidupnya itu, Imam Syafi'i melambaikan tangan mengucapkan salam perpisahan. Ia berharap ibundanya senantiasa mendo'akan untuk kesejahteraan dan keberhasilannya dalam menuntut Ilmu. Imam Syafi’i tak sanggup menahan sedihnya, ia pergi dengan lelehan airmata membanjiri wajahnya. Wajah yang mengingatkan pada seorang ibu yang telah memolesnya menuju seorang bergelar ulama besar. Ya ulama besar yang akan kenang sampai kiamat menjelang.

Oleh karena kehidupannya yang sangat miskin, maka Syafi'i berangkat dengan perbekalan yang sama sekali minim, kecuali cintanya yang telah tertumpah ruah kepada sang ibu. Imam Syafi'i mengisahkan perpisahan dengan ibunya dengan mengatakan, "Sesekali aku menoleh kebelakang untuk melambaikan tangan kepada ibuku. Dia masih terjegat diluar pekarangan rumah sambil memperhatikan aku. Lama-kelamaan wajah ibu menjadi samar ditelan kabus pagi. Aku meninggalkan kota Makkah yang penuh berkah, tanpa membawa sedikitpun bekalan uang. Apa yang menjadi bekalan bagi diriku hanyalah keteguhan iman dan hati penuh tawakkal kepada Allahuta’ala. Serta do'a restu ibuku."

Bayangkan bagaimana peran yang ditopang seorang ibu yang selalu memasrahkan buah hatinya kepada Allah berserta kekuatan tauhid yang menyala-nyala. Inilah karakter sejati seorang ibu yang telah menyerahkan jiwa raga anaknya hanya kepada ilmu. Menyerahkan segala aktivitasnya dalam rangka pengabdian kepada Allah. Dari mulai ia melahirkan, mengasuhnya tanpa suami, membesarkannya, hingga mengantar Syafi’i menjadi Imam Besar Umat Islam hingga kini. Itulah esensi pendidikan sejati. Pendidikan yang mustahil terbayar dengan gelimangan uang dan kompleksitas intsrumentasi.

Eksistensi yang mustahil ditemui dalam program-program pendidikan anak usia dini yang menjadikan tauhid dan kecintaan terhadap ilmu sebagai esensi kedua, ketiga, dan keempat setelah status kaya.

Semoga kita dapat memetik pelajaran berharga dari hal ini. Bahwa anak adalah investasi amal kita dalam rangka pengabdian kita kepada Allah. Semoga kita juga terjebak pada pemenuhan kebutuhan anak yang semu dan offline dari aturan Allah Subhana Wa Ta’ala. Karena Kita, anak kita, dan kecintaan kita kepada Allah adalah tiga kata yang harus kita ingat betul jika ingin sukses di akhirat maupun dunia.

“Apabila manusia telah mati, maka terputuslah amal pahalanya kecuali tiga perkara: Amal Jariyah, Ilmu yang bermanfaat, atau anak soleh yang mendoakannya” (HR. Muslim)
Wallahua’lam.

Katakan TIDAK! pada Buruk Sangka

Oleh Ineu (eramuslim.com)

Berulang-ulang Jasmine mengucap tasbih, tahmid, takbir dan tahlil saat pesawat hendak mendarat di landasan bandara internasional Tegel-Berlin. Sementara itu, dalam pangkuannya seorang bayi yang baru berusia empat bulan tampak begitu tenang menghilangkan dahaga dengan minuman terbaik yang Allah anugerahkan untuknya.

Tak lama kemudian terdengar standing aplause dari wajah-wajah sumringah para penumpang, menandakan pesawat telah landing dengan sempurna. Dan, bagi Jasmine hal itu berarti saat-saat yang paling dinantikannya hanya tinggal hitungan menit. Hamdalah menyertai langkah kakinya meninggalkan burung besi tersebut.

Haru, hanya satu kata itu saja yang dapat mewakili perasaan Jasmine saat Allah mempertemukan kembali ia dengan kekasih hatinya Fadhlan, di bandara tersebut saat pagi musim gugur Oktober 2005. Tak henti-henti ia mengucap syukur atas kasih sayang Allah hari itu pada keluarga kecilnya.

Ada sesuatu yang mengherankan ketika pertemuan itu terjadi, tangis bayinya yang sempat menarik perhatian penumpang lain saat mengantri untuk pengambilan barang di salah satu ruang bandara, terhenti begitu melihat sosok ayahnya menghampiri. Bayinya tiba-tiba tertawa dan menghentak-hentakkan kakinya tanda ia gembira. Fadhlan yang baru pertama kali melihat buah hatinya itu segera mendekapnya. Subhanalah, Jasmine hanya mampu bertasbih atas kebahagiaan sekaligus keharuan yang dialaminya saat itu.

Seperti yang dilakukan penumpang lainnya, sejoli itu pun segera keluar dari bandara menuju halte dimana banyak taxi siap mengantar orang-orang menuju tujuan. Fadhlan segera mencegat salah satunya, sang supir langsung sigap menanggapi. Namun ketika Fadhlan menunjuk ke arah Jasmine, serta merta sang supir menggelengkan kepala dan ia pun berlalu meninggalkan Fadhlan dan Jasmine dalam keheranan.

Fadhlan coba mencegat kembali, tetapi semua supir yang dihampirinya selalu menunjukkan sikap yang sama dengan supir taxi pertama, berubah sikap begitu melihat Jasmine. Berulang kali Fadhlan mencoba lagi, namun lagi-lagi hanya gelengan kepala yang didapat setiap kali para supir taxi itu melihat ke arah Jasmine. "Aneh?!" batin mereka berdua. Kecemasan mulai menjalari hati mereka dan menodai kegembiraan di hari perjumpaan itu.

Hembusan angin pagi dalam suhu 12 derajat mulai menggigilkan tubuh Jasmine. Namun dingin yang menusuk-nusuk hingga ke tulang itu tak dihiraukannya saat melihat sang buah hati tertidur pulas dalam dekapannya. Sambil menunggu upaya Fadhlan mendapatkan taxi, sebuah prasangka mulai hadir dan memainkan perasaannya.

"Kenapa mereka tiba-tiba menolak begitu melihatku ya? Apa karena mereka membenci orang Islam dan tak menyukai penampilanku dengan kerudung yang menjuntai lebar ini?" hati kecilnya bertanya-tanya.

Suara orang-orang yang pernah memberi saran sebelum keberangkatan ia menyusul suaminya serasa memenuhi gendang telinga.

"Jangan lupa kerudungnya dipendekin aja saat berangkat nanti!" seorang teman mengingatkan.

"Bawa baju-baju muslim dan kerudung yang modis kan?" ucap teman yang lain.

"Kamu mau tetap dengan penampilanmu seperti itu?" tanya ibunya penuh rasa khawatir.

Dan masih banyak lagi saran senada yang intinya menganjurkan Jasmine untuk merubah penampilan dirinya yang terbiasa mengenakan kerudung lebar dalam balutan gamis atau busana longgar lainnya.

Suara-suara itu menjadikan prasangka di hati Jasmine semakin menguat. Namun, segera ia berucap istighfar. "Tak ada yang salah dengan penampilanku. Insya Allah selama ini aku telah berusaha mengikuti perintah-Nya sesuai dengan syarat-syarat berbusana yang disyariatkan," bisik hati Jasmine menghalau prasangkanya.

"Tak mungkin Allah membiarkan hamba yang berusaha menjaga agama-Nya, ku yakin pertolongan Allah pasti akan datang!" Jasmine berucap pelan berusaha menentramkan diri dengan mengingat janji-Nya dan ia pun khusyu berdoa.

Entah sudah berapa kali Fadhlan mendapat penolakan, namun tiba-tiba seorang supir taxi memanggilnya. Segera Fadhlan menghampiri, sang supir taxi menyodorkan sehelai kartu nama. Terlihat oleh Jasmine, suaminya tersenyum dan mengucapkan terimakasih.

Rupanya para supir taxi itu tak mau mengantar sejoli itu tiap kali melihat Jasmine bukan dikarenakan penampilan Jasmine seperti prasangka yang sempat menghembus-hembus hatinya. Alasan para supir itu hanyalah karena taxi mereka tidak dilengkapi dengan kursi khusus untuk bayi. Ya, kursi khusus bayi, satu hal penting yang luput mereka siapkan sebelum hari pertemuan itu.

Untunglah dengan pertolongan Allah, seorang supir tergerak hatinya memberi kartu alamat sebuah agen taxi yang menyediakan perlengkapan tersebut. Ia pun memberitahu mereka bahwa belum tentu agen yang dimaksud dapat menyediakan taxi yang mereka perlukan dalam waktu cepat, karena taxi dengan perlengkapan keamanan bayi jumlahnya tidak banyak.

Ucapan sang supir ternyata benar adanya. Jasmine dan Fadhlan pun membuktikannya setelah menelpon agen tersebut. Jasmine dan bayinya semakin kedinginan dalam penantian, sementara taxi belum juga muncul. Meskipun demikian, mereka tetap berucap syukur karena petunjuk tersebut telah mengurai kebingungan mereka sebelumnya. Terlebih lagi buat Jasmine, petunjuk itu berhasil menguatkan sangka baiknya pada Allah sekaligus menggugurkan sangka buruk yang sempat melintas.

Hembusan angin musim gugur tak lagi dapat ditahan tubuh Jasmine dan bayinya. Fadhlan risau melihat keadaan anak dan isterinya hingga memutuskan untuk kembali ke ruang dalam bandara agar dapat menghangatkan badan.

Saat hendak menyebrang menuju tempat yang dimaksud, tiba-tiba sebuah taxi mendekat. Seraut wajah timur tengah yang mengendarai taxi tersebut mempersilahkan Jasmine dan Fadhlan untuk menaiki taxinya sambil mewanti-wanti Jasmine untuk memegang erat bayinya karena taxi tersebut tidak dilengkapi kursi khusus untuk bayi. Fadhlan dan Jasmine merasa heran namun bercampur rasa lega.

Sepanjang perjalanan, tak henti mereka panjatkan rasa syukur hingga taxi sampai ke tempat tujuan, sebuah apartemen di jalan Trift. Saat itu Jasmine merasakan Kuasa dan Kasih Sayang Allah di awal kakinya menginjak bumi Deutchland. "Kalau bukan karena pertolongan Allah, kuyakin tak akan ada supir taxi yang mau melanggar aturan mengemudi yang sangat ketat di negeri ini," bisiknya.

Jasmine tak sanggup membayangkan apa yang akan dialami jika ia turuti hembusan prasangka yang sempat melintas dalam hatinya saat peristiwa itu terjadi. Ia teringat pada firman Allah dalam sebuah hadits Qudsi, "Qala Ta’ala ana ‘inda dhanni ‘abdi. In khairan fa khairan wa in syarran fa syarran,"yang terjemahnya berarti "Aku bergantung pada prasangka hamba-Ku. Sekiranya berprasangka baik, akan berdampak baik dan sekiranya berprasangka buruk akan menjadi buruk."

Dalam sujud syukur, kembali hati kecilnya berbisik, "Dikarenakan penjagaan Allah sajalah, aku dapat melaksanakan seruan-Nya, 'Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa.' (QS. Al-Hujuraat [49] : 12)."

Pengalaman yang dilaluinya hari itu membuat Jasmine berjanji pada dirinya untuk selalu mengedepankan baik sangka dan memasang alarm di hati untuk katakan TIDAK! pada buruk sangka.

Surat Hasan al-Basri Kepada Umar bin Abdul Aziz

  • Hasan Al-Basri rohimahullah menulis surat kepada Umar bin Abdul Aziz rohimahullah, dan dalam suratnya Hasan Al-Basri berkata, “Ketahuilah, sesungguhnya tafakkur Itu mengajak pelakunya kepada kebaikan dan mengamalkannya. Menyesali kejahatan Itu membuat pelakunya meninggalkannya.
  • Apa yang telah hilang – kendati sangat banyak-tidak bisa dibandingkan dengan apa
    yang masih ada, kendati mencarinya adalah sesuatu yang mulia. Bersabar terhadap kelelahan sebentar yang menghasilkan istirahat lama itu lebih baik , daripada penyegeraann istirahat sebentar yang menghasilkan kelelahan abadi.
  • Waspadalah terhadap dunia yang menipu, berikhianat, dan memperdaya. ia berhias
    dengan tipuannya, berdandan dengan muslihatnya, membunuh manusia dengan mimpi-mimpinya, dan membuat ridu para pelamarnya, hingga Ia menjadi seperti pengantin yang menjadi pusat perhatian. Semua mata melihat kepadanva.
  • Semua hati rindu kepadanva. dan semua jiwanva tertarik kepadanya. Ia menjadi pembunuh bagi semua suami- suaminya. Tragisnya orang yang masih hidup tidak mau belajar dari orang yang telah meninggal dunia, generasi terakhir tidak mengambil pelajaran dari generasi pertama, orang bijak tidak mendapatkan manfaat dari banyaknya pengalaman, dan orang yang kenal Allah dan beriman kepada-Nya tidak ingat ketika la diberi penjelasan tentang dunia.
  • Akibatnya, hati manusia mencintai dunia dan jiwa mereka kikir dengannya. Ini semua tidak lain bentuk kerinduan kita kepada dunia, karena barangsiapa merindukan sesuatu, Ia tidak memikirkan yang lain. Ia mati ketika memburunya atau berhasil mendapatkannya. Kedua orang tersebut adalah perindu dan pemburu dunia.
  • Perindu dunia telah sukses mendapatkan dunia dan tertipu dengannya. Dengan dunia, Ia lupa akan prinsip dan hari akhirat. Hatinya disibukkan oleh dunia. Hatinya dibuat larut oleh dunia, hingga kakinya tergelincir di dalamnya, dan kematian datang kepadanya dengan sangat cepat daripada sebelumnya. Ketika itu, penyesalanya pun menggelembung, kesedihannya membesar, terkumpul padanya sakaratul maut dan rasa sakitnya dengan sedih kehilangan dunia.
  • Sedang orang kedua meninggal sebelum berhasil memenuhi kebutuhannya. Ia pergi
    dari dunia dalam keadaan terpukul hatinya, tidak mendapatkan apa yang dicarinya
    dan jiwanya tidak bisa istirahat, dari kelelahan. Ia keluar dari dunia tanpa bekal dan tiba tanpa membawa oleh-oleh. Oleh karena itu, waspadalah secara penuh terhadap dunia, karena dunia itu tak ubahnya seperti ular; kulitnya halus, namun racunnya mematikan.
  • Berpalinglah dari apa saja di dunia ini yang menarik hatimu, kanena jarang sekali sesuatu yang ada di dunia ini yang menemanimu. Buanglah seluruh ambisi kepada dunia dari dalam hatimu, karena engkau mengetahui dunia itu menyakitkan dan engkau yakin akan berpisah dengannya. Oleh karena itu, waspadalah wahai Amirul Mukminin. Karena sesungguhnya pemilik dunia, setiap kali ia senang kepadanya maka itu berubah menjadi kebencian.
  • Orang yang gembira di dunia ialah orang yang tertipu, orang yang bermanfaat di dalamnya kelak menjadi orang yang merugi, kemakmuran di dalamnya diberikan bercampur dengan cobaan, dan keabadian di dalamnya berubah menjadi fana. Kebahagiaan di dalamnya bercampur dengan kesedihan, dan akhir kehidupan di dalamnya adalah lemah dan tidak berdaya. Oleh karena itu, lihatlah dunia seperti penglihatan orang zuhud yang hendak meninggalkannya, dan jangan melihat dunia seperti penglihatan perindu yang jatuh cinta.
  • Ketahuilah, bahwa dunia itu menghilangkan tamu yang telah menetap, dan menyakitkan orang tertipu yang merasa aman. Apa yang telah berlalu dari dunia tidak akan kembali lagi, dan apa yang akan datang tidak bisa diketahui, apa lagi ditunggu.!
  • Waspadalah terhadap dunia, karena mimpi-mimpinya dusta belaka, khayalan- khaya
    lannya batil kehidupannya melelahkan, dan kejernihannya adalah keruh. Engkau terancam mendapatkan dua hal di dunia ini; nikmat yang akansirna, dan cobaan yang akan datang, atau musibah yang menyakitkan, dan kematian yang memutus segala-galanya.
  • Sungguh, dunia itu melelahkan seseorang, jika ia mau berpikir. Ia berada dalam
    nikmat yang membahayakan, takut terhadap musibah-musibah yang ada di dalamnya,
    dan meyakini kematian. Seandainya Allah Yang Maha pencipta tidak menyampaikan
    berita tentang dunia, dan tidak memberi perumpamaan tentang dunia, dan tidak
    memerintahkan manusia bersikap zuhud di dalamnya, pasti dunia membangunkan
    orang yang tidur, dan mengingatkan orang yang lupa diri!
  • Bagaimana tidak, padahal telah datang pelarang dari Allah Azza wa Jalla dan banyak sekali penasihat di dalamnya? Dunia di sisi Allah Azza wa Jalla tidak ada bobot dan nilainya. Berat dunia di sisi Allah Ta’ ala tidak seberat satu kerikil, dan tidak sebesar satu bintang di antara gugusan bintang yang ada. Allah tidak menciptakan makhluk yang Lebih Dia benci dari pada dunia –seperti di sampaikan kepadaku- dan Dia tidak melihat kepada-nya sejak Dia menciptaknnya karena benci kepadanya.
  • Sungguh dunia dengan kunci-kuncinya dan semua simpanannya yang nilainya di sisi
    Allah Lebih ringan dari sayap lalat , pernah diperlihatkan kepada Nabi kita,
    Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, namun beliau menolak menerimanya, karena
    beliau telah mengetahui bahwa jlka Allah membenci sesuatu, beliau harus membencinya. Jika Allah mengkerdilkan sesuatu, beliau harus mengkerdilkannya. Dan jika Allah merendahkan sesuatu, beliau harus merendahkannya.
  • Jika beliau menerima dunia tersebut, maka bukti kecintaan beliau kepada dunia
    tersebut ialah penerimaan beliau terhadap tawaran dalam bentuk dunia tersebut.
    Namun beliau menolak mencintai sesuatu yang dibenci Allah, dan mengangkat apa
    yang direndahkan Pemiliknya.
  • Jika Allah Ta’ala tidak menunjukkan tentang rendahnya nilai dunia kepada beliau,
    namun Dia memandang rendah dunia tersebut dengan menjadikan kebaikannya sebagai
    pahala bagi orang-orang yang taat, dan menjadikan hukuman dunia sebagai siksa
    bagi orang-orang yang bermaksiat. Kemudian Allah mengeluarkan pahala taat dari
    dunia tersebut, dan mengeluarkan hukuman maksiat daripadanya.
  • Di antara hal menunjukkan kepada dunia tentang keburukan dunia ini, bahwa Allah
    Ta’ala menjauhkan dunia dari orang- orang yang shalih dengan suka rela dan membentangkannya kepada musuh-musuh-Nya dengan tujuan menipunya. Orang yang tertipu dengan dunia dan tergoda dengannya menyangka bahwa ia dimuliakan Allah Ta’ala dengan dunia tersebut. Ia lupa terhadap apa yang diperbuat Allah terhadap Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan Nabi Musa ‘Alaihis Salam. Adapun Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau mengikatkan batu diperutnya karena sakinglaparnya.
  • Adapun Nabi Musa ‘Alaihis Salam, beliau tidak meminta sesuatu kepada Allah Ta‘ala pada saat ia berteduh di bawah pohon, selain makanan yang bisa beliau makan untuk menghilangkan kelaparannya.
  • Sungguh banyak sekali riwayat-riwayat dan Nabi Musa ‘Alaihis Salam, bahwa Allah Ta’ala mewahyukan kepada beliau , Hai Musa, jika engkau melihat kemiskinan datang kepadamu, katakan, ‘Selamat datang simbol orang-orang shalih.’ Jika engkau melihat kekayaan datang kepadamu, katakan, ‘ini adalah dosa yang hukumannya dipercepat.’
  • Jika engkau mau, aku ketengahkan Nabi Isa ‘alaihis salam kepada baginda, karena ia amat menakjubkan. Ia berkata, “Lauk-ku adalah lapar, Syi’arku ialah takut, Pakaianku ialah wol., Hewan kendaraanku ialah kedua kakiku. Lampuku di malam hari ialah bulan. Bahan bakarku di musim dingin ialah matahari. Buah -buahanku dan penghidupanku ialah apa yang ditumbuhkan bumi untuk binatang buas dan hewan ternak. Aku tidur dalam keadaan tidak memiliki apa-apa dan tidak ada seorang pun yang lebih kaya dariku”.
  • Jika engkau mau, aku ketengahkan contoh keempat, yaitu Nabi Sulaiman bin Daud
    Alaihimas Salam, karena ia tidak kalah menakjubkan. Ia makan roti dan gandum, memberi roti coklat kepada keluarganya, dan tepung putih kepada rakyatnya.
  • Jika malam telah tiba, ia memakai baju dari tenunan kasar, dari tangannya ke lehernya Ia semalaman menangis hingga pagi hari. Ia makan makanan yang kasar, dan mengenakan pakaian kasar. Kendati Itu semua, mereka membenci apa saja yang dibenci Allah Ta’ala, memandang kecil apa yang dipandang kecil oleh Allah Ta’ala, dan bersikap zuhud di dalam hal-hal yang Allah bersikap zuhud di dalamnya.
  • Kemudian orang-orang shalih meniti jalan mereka, menapaktilasi jalan mereka, mengharuskan dirinya berlelah- lelah, dan memahami lbrah, serta merenung diri. Mereka bersabar di dunia yang singkat ini dari kenikmatan yang menipu yang berakhir kepada kemusnahan. Mereka melihat kepada akhir dunia, dan tidak melihat kepada permulaannya. Mereka melihat kepada hasil akhir dunia yang pahit, dan tdak melihat rasa manis yang hanya terasa pada awal-awalnya saja.
  • Mereka mengharuskan dirinya bersabar dan menempatkan diri mereka seperti mayit-mayit yang tidak boleh kenyang di dunia, kecuali pada saat yang dibutuhkan. Mereka makan sebatas untuk menguatkan jiwa, dan ruh. Mereka menempatkan diri mereka seperti bangkai yang telah membusuk, hingga membuat siapa saja yang melewatinya, pasti Ia menutup hidungnya. Mereka tidak meraih dunia hingga sampai tahap merugikannya, dan tidak sampai kenyang yang berbau busuk.
  • Dunia dijauhkan dari mereka. Itulah kedudukan dunia dalam jiwa mereka. Mereka
    merasa heran terhadap orang yang memakan dunia hingga kekenyangan, dan
    bersenang-senang dengannya hingga rakus. Mereka berkata, Tidakkah kalian lihat
    bahwa mereka tidak takut makan? Tidakkah mereka mendapatkan bau busuknya?
  • Saudaraku, demi Allah sesungguhnya bau dunia sekarang atau esok itu lebih busuk
    daripada bangkai. Hanya saja manusia meminta sabar dengan segera. Akibatnya,
    mereka tidak bisa mencium bau busuk. Mereka tidak bisa mencium bau bau yang ada
    di kulit yang membusuk yang mengganggu para pejalan kaki, dan orang-orang yang
    duduk di dekatnya.
  • Cukuplah dunia bagi orang yang berakal, bahwa barangsiapa meninggal dunia
    dengan meninggalkan harta yang banyak, Ia sangat berkeinginan seandainya dulu
    ia menjadi orang miskin di dunia, atau orang mulia, atau orang buangan, atau
    orang selamat. Ia lebih senang seandainya di dunia dulu ia menjadi orang yang
    menderita, atau rakyat biasa.
  • Jika engkau meninggalkan dunia ini, pasti engkau lebih senang seandainya engkau
    di dunia ini menjadi orang yang paling rendah kedudukannya, dan orang yang
    paling miskin. Bukankah ini cukup dijadikan bukti bahwa dunia itu sangat hina
    bagi orang yang memikirkannya?
  • Demi Allah, jika seseorang mengharapkan sesuatu dari dunia ini melainkan ia
    mendapati dunia tersebut berada di sampingnya tanpa ia kejar dan merasakan
    kelelahan. Namun jika Ia telah mendapatkan sesuatu dari dunia tensebut, ia mempunyai hak-hak Allah di dalamnya, dan ia akan ditanya tentang dunia tersebut, serta ia akan dihisab karenanya Jika demikian permasalahannya, maka seyogyanya orang berakal itu tidak mengambil sesuatu dari dunia, kecuali sebesar porsi makanannya dan kebutuhannya, karena khawatir akan ditanya tentang dunia tersebut, dan takut akan dahsyatnya hisab terhadap dirinya.
  • Sesungguhnya dunia itu jika engkau memikirkannya, tidak lebih dari tiga hari: hari kemarin yang tidak bisa engkau harapkan lagi, hari yang engkau berada didalamnya yang harus engkau manfaatkan sebaik mungkin, dan hari esok yang engkau tidak tahu apakah engkau berada di hari tersebut atau tidak? Engkau tidak tahu siapa tahu engkau meninggal dunia esok pagi.
  • Adapun kemarin, ia ibarat orang bijak yang pandai mendidik. Adapun hari ini, ia ibarat teman yang akan mengucapkan selamat berpisah. Namun, kendati kemarin telah membuatmu sakit, engkau telah menggenggam hikmah. Jika engkau telah menyia-nyiakannya, engkau mendapatkan ganti. Tadinya kemarin tersebut tidak ada pada dirimu, namun sekarang ia cepat pergi darimu.
  • Adapun esok hari, engkau masih mempunyai secercah harapan. Oleh karena itu,
    berbuatlah, dan jangan tertipu oleh mimpi-mimpi sebelum ajal tiba. Engkau jangan memasukkan kesedihan esok dan esok lusa ke dalam hari ini, karena hal tersebut hanya akan menambah kesedihanmu dan kelelahanmu, serta engkau kumpulkan pada hari ini sesuatu yang menyempurnakan hari-harimu. Itu hal yang mustahil, karena kesibukan Itu sangat padat, kesedihan Itu semakin bertambah, kelelahan itu semakin besar, dan seseorang membuang amal dengan impian kosong.
  • Seandainya harapan esok pagi keluar dari hatimu, engkau telah berbuat dengan
    baik pada hari ini, dan telah mengurangi kesedihanmu pada hari ini. Namun harapanmu terhadap esok pagi itu membuatmu bersikap tidak serius,dan membuatmu menjadi orang yang banyak menuntut.
  • Jika engkau ingin kata-kata singkat, aku pasti mendiskripsikan untukmu tentang
    dunia di antara dua jam; satu jam yang telah berlalu, satu jam yang akan datang, dan satu jam yang engkau sedang berada dl dalamnya.
  • Adapun satu jam yang telah berlalu dan telah lewat. maka engkau tidak mendapatkan kelezatan di istirahat keduanya dan merasakan sakit terhadap musibah keduanya. Sesungguhnya dunia ialah saat yang engkau sedang berada di dalamnya. Satu jam tersebut menipumu dari surga dan menggiringmu ke neraka.
  • Adapun hari ini -jika engkau memikirkannya- adalah ibarat tamu yang singgah kepadamu dan akan pergi darimu. Jika engkau menjamu dan melayaninya dengan baik, Ia menjadi saksi bagimu, memujimu, dan membenarkanmu di dalamnya. Jika engkau menjamunya dengan buruk, Ia berputar di kedua matamu.
  • Kedua hari tersebut adalah ibarat dua saudara. Salah seorang daripadanya bertamu kepadamu, kemudian engkau bersikap buruk terhadapnya, dan tidak menjamunya dengan baik. Sesudah orang tersebut pergi darimu, datanglah orang satunya, kemudian berkata kepadamu, Aku datang kepadamu setelah kepergian saudaraku.
  • Jika engkau berbuat baik kepadaku, perbuatan baikmu ini akan menghapus perbuatan burukmu kepada suadaraku sebelum ini dan memaafkan apa yang telah engkau perbuat terhadapnya. Hati-hatilah engkau, jika aku berkunjung kepadamu dan aku datang kepadamu setelah kepergian saudaraku darimu. Sungguh, engkau telah beruntung mendapatkan pengganti jika engkau mau berfikir.Periksalah apa yang telah engkau sia-siakan!.
  • Jika engkau menyamakan orang kedua seperti orang pertama, maka alangkah
    pantasnya engkau binasa karena kesaksian dua orang tersebut terhadap dirimu!. Sesungguhnya sisa umur itu tidak ada nilainya. Seandainya semua dunia dikumpulkan, maka dunia tidak lebih dari satu hari dalam umur seseorang.
  • Jangan sekali-kali mayat di kuburan itu lebih bisa menghargai sesuatu yang ada
    di tanganmu daripada engkau sendiri. padahal sesuatu tersebut milikmu. Demi Allah. jika dikatakan kepada mayat di kuburan. ‘Inilah dunia itu dan awal hingga akhir. Engkau memberikannya kepada anak-anakmu kemudian mereka bersenang-senang dengannya sepeninggalmu. Engkau lebih mencintai mereka ataukah lebih mencintai hari di mana engkau dibiarkan beramal untuk dirimu? Pasti ia memilih pilihan kedua..
  • Bahkan, seandainya ia disuruh memilih satu jam dengan waktu berjam-jam milik
    orang lain seperti telah aku jelaskan kepadamu, pasti ia lebih memilih waktu satu jam tersebut untuk dirinya.
  • Bahkan lagi, jika ia disuruh memilih antara satu kata yang mendapatkan pahala dengan hal-hal lain seperti telah aku jelaskan kepadamu, pasti ia lebih menyukai satu kata tersebut.
  • Periksalah dirimu hari ini! Lihatlah waktu! Agungkanlah kata! Hati-hatilah terhadap kerugian ketika Hari Kiamat telah tiba! Semoga Allah menjadikan nasihat ini bermanfaat bagiku dan bagimu. Semoga Allah memberi kita hasil yang baik.

Sumber : Buku Wasiat –wasiat Ulama terdahulu , Oleh Syaikh Salim l’ed Al-Hilali
hafidzahullah, Penerbit: Dar Ibnu
Jauzi. Cet. 2 1112 H/1991 M